Rabu, 01 Februari 2012

Menuju Satu Dasawarsa Ada Apa Dengan Cinta (#10thnAADC)

(Sebuah curahan hati yang menggebu dari seorang penggemar untuk sebuah mahakarya)


Kisah cinta. Hmm. Tentang Cinta dan Rangga. Di SMA. Hmm
Selintas tema cerita Ada Apa Dengan Cinta atau AADC begitu orang biasa menyebutnya sangat biasa. Namun, tidak bagi saya.
 AADC menghidupkan kembali kepercayaan saya terhadap puisi, menemukan makna yang terselip dalam indahnya rangkaian kata. Saya pernah sangat menggilai puisi hingga kemudian merasa terlalu surealis untuk tetap menulisnya. Namun AADC menghempaskan saya kembali ke masa-masa kejayaan dalam meramu kata, ah Cinta dan Rangga. Kalian membuat saya gila!
8 Februari nanti, AADC akan berusia satu dasawarsa. Sebagai bentuk apresiasi Miles Films akan mengadakan reuni, acara nonton bareng di sebuah studio yang juga akan dihadiri oleh semua pemeran dan segenap kru.
Ketika mengetahui film favorit saya akan diputar kembali dalam sebuah studio, kata gembira tidak akan pernah cukup kuat untuk mendeskripsikannya. Menonton dalam sebuah ruangan bersama seratus pengagum lainnya? Juga  duduk di bawah satu atap bersama kru dan pemeran sebagai bonus? Sensasinya akan sangat berbeda.
Saya tidak menonton AADC di studio karena saat itu, saya bahkan belum tahu studio itu ada di dunia. Saya tinggal di perkampungan dan masih berusia 10 tahun ketika film itu tayang pertama kali.
Sesudahnya pun,  saya belum pernah menonton film Indonesia di studio.
 Saya mulai menyadari kehdiran studio sejak SMP, namun tidak pernah cukup kaya untuk menonton sesuka hati. Sejak SD, uang saku saya tidak pernah mencapai standar lebih. Sehingga uang yang sudah susah payah ditabung harus dipikirkan sematang-matangnya akan dihabiskan untuk apa. Saya sangat suka membaca, sehingga buku adalah prioritas utama. Saya juga mengagumi film, bagaimana sesuatu yang sangat menghibur dapat tertanam begitu dalam di hati. Namun, karena kondisi keuangan,film yang saya tonton di studio haruslah sangat spesial dan layak untuk rupiah saya. Karena itulah, saya belum pernah menonton film Indonesia, karena menurut saya, belum ada film Indonesia yang pantas. Juga diperkuat dengan kenyataan bahwa dalam hitungan bulan film Indonesia tersebut pasti akan disiarkan oleh stasiun televisi nasional.
Namun AADC sungguh berbeda. Semoga AADC menjadi film Indonesia pertama yang saya saksikan di studio, karena yang pertama berarti istimewa.
Sangat istimewanya, saya menahan rindu yang membuncah untuk orang tua di kampung halaman dengan menunda kepulangan tujuh hari lebih lama, berujar dalam hati “siapa tahu dapat tiket #10thnAADC.”  Saya bergumam imbalannya akan sangat pantas ketika sesak di dada, merasa sungguh durhaka  membaca pesan singkat Ibu yang memohon untuk segera pulang.
Sensasinya akan sangat berbeda. Dan saya sungguh rela berdiri dalam antrian dan mengeluarkan rupiah untuk membeli sensasi itu. Sayangnya,beberapa hal dalam hidup ini sangat mahal sehingga tidak untuk dijual. Untuk menjadi peserta #10thnAADC, saya harus mencoba peruntungan dengan menjawab kuis #10thnAADC di Twitter @MilesFilms. Hingga detik ini, saya masih terus berharap untuk menjadi satu dari seratus orang yang beruntung.
Saya berterima kasih untuk segenap kru dan pemeran, saya tidak menghafalkan dengan sempurna nama-nama Anda dalam ingatan saya namun sungguh saya kagum kepada Anda. Semoga tulisan ini cukup mewakilinya. Semoga Anda percaya bahwa haru sedang menghampiri saya saat ini. Terima kasih untuk pernah membuat karya yang sungguh ... fenomenal, dan dicintai. AADC adalah salah satu alasan saya bangga menjadi generasi milenium, sesuatu yang akan saya ceritakan dengan sangat bangga pada cucu kelak.
Dan 10 tahun akan berlalu, saya ingin mengutip Prima Rusdi, dalam tweetnya (@PrimaRus, pada 31 Januari)
“9 hari sebelum HUT ke-10 AADC? Terima kasih untuk pemahaman bahwa ‘bonus’ dari sebuah pekerjaan adalah saat ia disimpan dalam ingatan banyak orang..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar